
“Boleh pinjem headsetnya ya…?” atau “Headsetnya berdua dong…”. Nah, mungkin kalimat tersebut pernah kita dengar di sekitar kita. Atau mungkin, kita sendiri yang pernah meminjam atau meminjamkan headset atau earphone pada orang lain. Entah untuk menelepon, mendengarkan musik sendiri, atau menikmati musik berdua. Sungguh sangat intimnya kita. Namun, tahukah? Bahwa bersamaan kita berbagi headset atau earphone dengan orang lain, maka saat itu pula secara tidak sadar si pemilik headset telah berbagi bakteri dan kuman yang berasal dari telinganya pada kita. Begitu pula sebaliknya, jika ada yang meminjam headset milik kita, si peminjam headset tersebut akan tertulari bakteri berasal dari telinga kita yang bersembunyi dalam headset.


Cairan warna kuning di telinga kita adalah bukanlah kotoran yang menumpuk, melainkan serumen, yang dihasilkan oleh kelenjar di liang telinga yang akan melapisi kulit liang telinga serta melindungi telinga dari kerusakan dan infeksi. Karena sifatnya yang kental dan lengket, maka serumen mampu menangkap debu dan bakteri serta mencegahnya masuk ke bagian telinga yang lebih dalam. Ketika earphon atau headset kita tempelkan pada lubang telinga kita, maka sangat dimungkinkan bakteri yang ada di lubang telinga kita ikut menempel pada alat tersebut, dan kemudian berkembang biak disana.
Sebuah penelitian terkini mengenai penggunaan headset bersama-sama telah dilakukan oleh para ilmuwan yaitu Mukhopadhyay, Chiranjay and Basak, Soham and Gupta, Soham and Chawla, Kiran and Bairy, dalam jurnalnya yang berjudul Sebuah Analisis Perbandingan Pertumbuhan Bakteri dengan Menggunakan Earphone. Para ilmuwan dari Manipal University di India Selatan tersebut mengatakan bahwa penggunaan bersama earphone bisa mempercepat pertumbuhan bakteri di telinga secara signifikan.
Metode yang digunakan adalah, dari 50 orang mahasiswa yang berusia 18-25, mereka dibagi menjadi dua kelompok masing-masing 25 orang. Grup A adalah mereka yang jarang menggunakan atau pernah menggunakan earphone. Dalam kelompok tersebut, diambil sekaan dari telinga dan headset mereka. Kelompok B adalah mereka yang menggunakan headset untuk mendengarkan musik terus menerus dalam rentang waktu minimal 30 menit. Kelompok B inipun adalah mereka yang terbiasa berbagi headset dengan orang lain. Sekaan diambil langsung dari telinga dan headset setelah headset tersebut selesai digunakan. Sekaan dari telinga dan headset mereka kemudian diinokulasikan pada medium darah domba.
Bagaimana hasilnya?
Di kelompok A, jumlah pertumbuhan bakteri mencapai sebesar 80% (yang berasal dari sekaan telinga) dan 56% (dari sekaan headset mereka). Perbedaan yang jauh terlihat pada kelompok B. Di kelompok B, pertumbuhan bakteri mencapai 92 % dari sekaan yang diambil dari telinga mereka dan 68% dari sekaan yang berasal dari headset yang mereka pakai.
Dari hasil penelitian tersebut, penggunaan bersama earphone bias mentransfer bakteri dari telinga pengguna earphone yang satu, ke pengguna lainnya.
Bakteria yang ditemukan adalah termasuk jenis Staphylococcus dan Streptococcus yang bias menyebabkan bengkak dan sakit pada telinga.
“Lebih baik tidak berbagi earphone dengan orang lain, atau Anda harus sering membersihkannya,” ujar Chiranjay Mukhopadhyay, pemimpin penelitian itu, dikutip dari Sunday Express.
Hasil yang hampir sama ditemukan pada studi yang dipublikasikan oleh jurnal medis Laryngoscope, yang meneliti headset audio di pesawat terbang, yang digunakan secara bergantian oleh penumpang.
Ternyata, setelah sejam penggunaan, jumlah perkembangan bakteri pada headset itu meningkat pesat dari 60 micro-organisme menjadi 650 micro-organisme.
Berbeda keadaannya jika kaum perempuan memakai penutup kepala (kerudung) ketika memakai headset, dimana tidak terjadi kontak antara lubang telinga dengan permukaan headset, sehingga bakteri tidak ikut menempel. Hal ini tentu menjadikan headset terjaga kebersihannya dari bakteri yang berasal dari telinga dan aman digunakan oleh pemakainya.
Sedikit tips, agar kebersihan headset kita terjaga, minimal menghambat pertumbuhan bakteri didalamnya, sering-seringlah membersihkannya dengan mengusapkan anti-mikroba pada permukaan headset di bagian yang akan dimasukkan ke dalam telinga. Untuk headset besar seperti yang ada di laboratorium-laboratorium bahasa, yang sering dan digunakan oleh banyak orang, pemeliharaan bisa dilakukan dengan mengganti busanya minimal setiap enam bulan sekali, karena di busa itulah bakteri banyak bersarang. 
Dari paparan fakta-fakta diatas diatas, apa tindakan selanjutnya yang akan kita lakukan dengan headset atau earphone kita? Akankah kita tetap berbagi, ataukah memilih menolak secara halus untuk urusan pinjam-meminjam headset/earphone dengan memberikan sedikit penjelasan pada teman kita?
http://cogprints.org/6200/1/2008-2-4.pdf
http://www.headsets-australia.com/headset-hygiene.html
http://kosmo.vivanews.com/news/read/22978-berbagi_earphone___berbagi_bakteri_1
http://www.gadis.co.id/gaul/ngobrol/aman.menggunakan.earphone/001/007/580
http://www.klikdokter.com/healthnewstopics/read/2010/04/22/150239/membersihkan-telinga-
