35 Komentar

Berbagi Headset/Earphone, Amankah?


“Boleh pinjem headsetnya ya…?” atau “Headsetnya berdua dong…”. Nah, mungkin kalimat tersebut pernah kita dengar di sekitar kita. Atau mungkin, kita sendiri yang pernah meminjam atau meminjamkan headset atau earphone pada orang lain. Entah untuk menelepon, mendengarkan musik sendiri, atau menikmati musik berdua. Sungguh sangat intimnya kita. Namun, tahukah? Bahwa bersamaan kita berbagi headset atau earphone dengan orang lain, maka saat itu pula secara tidak sadar si pemilik headset telah berbagi bakteri dan kuman yang berasal dari telinganya pada kita. Begitu pula sebaliknya, jika ada yang meminjam headset milik kita, si peminjam headset tersebut akan tertulari bakteri berasal dari telinga kita yang bersembunyi dalam headset.

Cairan warna kuning di telinga kita adalah bukanlah kotoran yang menumpuk, melainkan serumen, yang dihasilkan oleh kelenjar di liang telinga yang akan melapisi kulit liang telinga serta melindungi telinga dari kerusakan dan infeksi. Karena sifatnya yang kental dan lengket, maka serumen mampu menangkap debu dan bakteri serta mencegahnya masuk ke bagian telinga yang lebih dalam. Ketika earphon atau headset kita tempelkan pada lubang telinga kita, maka sangat dimungkinkan bakteri yang ada di lubang telinga kita ikut menempel pada alat tersebut, dan kemudian berkembang biak disana.

Sebuah penelitian terkini mengenai penggunaan headset bersama-sama telah dilakukan oleh para ilmuwan yaitu Mukhopadhyay, Chiranjay and Basak, Soham and Gupta, Soham and Chawla, Kiran and Bairy, dalam jurnalnya yang berjudul Sebuah Analisis Perbandingan Pertumbuhan Bakteri dengan Menggunakan Earphone. Para ilmuwan dari Manipal University di India Selatan tersebut mengatakan bahwa penggunaan bersama earphone bisa mempercepat pertumbuhan bakteri di telinga secara signifikan.

Metode yang digunakan adalah, dari 50 orang mahasiswa yang berusia 18-25, mereka dibagi menjadi dua kelompok masing-masing 25 orang. Grup A adalah mereka yang jarang menggunakan atau pernah menggunakan earphone. Dalam kelompok tersebut, diambil sekaan dari telinga dan headset mereka. Kelompok B adalah mereka yang menggunakan headset untuk mendengarkan musik terus menerus dalam rentang waktu minimal 30 menit. Kelompok B inipun adalah mereka yang terbiasa berbagi headset dengan orang lain. Sekaan diambil langsung dari telinga dan headset setelah headset tersebut selesai digunakan. Sekaan dari telinga dan headset mereka kemudian diinokulasikan pada medium darah domba.

Bagaimana hasilnya?
Di kelompok A, jumlah pertumbuhan bakteri mencapai sebesar 80% (yang berasal dari sekaan telinga) dan 56% (dari sekaan headset mereka). Perbedaan yang jauh terlihat pada kelompok B. Di kelompok B, pertumbuhan bakteri mencapai 92 % dari sekaan yang diambil dari telinga mereka dan 68% dari sekaan yang berasal dari headset yang mereka pakai.
Dari hasil penelitian tersebut, penggunaan bersama earphone bias mentransfer bakteri dari telinga pengguna earphone yang satu, ke pengguna lainnya.
Bakteria yang ditemukan adalah termasuk jenis Staphylococcus dan Streptococcus yang bias menyebabkan bengkak dan sakit pada telinga.
“Lebih baik tidak berbagi earphone dengan orang lain, atau Anda harus sering membersihkannya,” ujar Chiranjay Mukhopadhyay, pemimpin penelitian itu, dikutip dari Sunday Express.

Hasil yang hampir sama ditemukan pada studi yang dipublikasikan oleh jurnal medis Laryngoscope, yang meneliti headset audio di pesawat terbang, yang digunakan secara bergantian oleh penumpang.
Ternyata, setelah sejam penggunaan, jumlah perkembangan bakteri pada headset itu meningkat pesat dari 60 micro-organisme menjadi 650 micro-organisme.

Berbeda keadaannya jika kaum perempuan memakai penutup kepala (kerudung) ketika memakai headset, dimana tidak terjadi kontak antara lubang telinga dengan permukaan headset, sehingga bakteri tidak ikut menempel. Hal ini tentu menjadikan headset terjaga kebersihannya dari bakteri yang berasal dari telinga dan aman digunakan oleh pemakainya.
Sedikit tips, agar kebersihan headset kita terjaga, minimal menghambat pertumbuhan bakteri didalamnya, sering-seringlah membersihkannya dengan mengusapkan anti-mikroba pada permukaan headset di bagian yang akan dimasukkan ke dalam telinga. Untuk headset besar seperti yang ada di laboratorium-laboratorium bahasa, yang sering dan digunakan oleh banyak orang, pemeliharaan bisa dilakukan dengan mengganti busanya minimal setiap enam bulan sekali, karena di busa itulah bakteri banyak bersarang.

Dari paparan fakta-fakta diatas diatas, apa tindakan selanjutnya yang akan kita lakukan dengan headset atau earphone kita? Akankah kita tetap berbagi, ataukah memilih menolak secara halus untuk urusan pinjam-meminjam headset/earphone dengan memberikan sedikit penjelasan pada teman kita? :)

http://cogprints.org/6200/1/2008-2-4.pdf

http://www.headsets-australia.com/headset-hygiene.html

http://kosmo.vivanews.com/news/read/22978-berbagi_earphone___berbagi_bakteri_1

http://www.gadis.co.id/gaul/ngobrol/aman.menggunakan.earphone/001/007/580

http://www.klikdokter.com/healthnewstopics/read/2010/04/22/150239/membersihkan-telinga-

Tinggalkan Komentar

Jika Suatu Saat Kau Jadi Ibu

Jika suatu saat nanti kau jadi ibu, ketahuilah bahwa telah lama umat menantikan ibu yang mampu melahirkan pahlawan seperti Khalid bin Walid. Agar kaulah yang mampu menjawab pertanyaan Anis Matta dalam Mencari Pahlawan Indonesia: “Ataukah tak lagi ada wanita di negeri ini yang mampu melahirkan pahlawan? Seperti wanita-wanita Arab yang tak lagi mampu melahirkan lelaki seperti Khalid bin Walid?”

Jika suatu saat nanti kau jadi ibu, jadilah seperti Asma’ binti Abu Bakar yang menjadi inspirasi dan mengobarkan motivasi anaknya untuk terus berjuang melawan kezaliman. “Isy kariman au mut syahiidan! (Hiduplah mulia, atau mati syahid!),” kata Asma’ kepada Abdullah bin Zubair. Maka Ibnu Zubair pun terus bertahan dari gempuran Hajjaj bin Yusuf as-Saqafi, ia kokoh mempertahankan keimanan dan kemuliaan tanpa mau tunduk kepada kezaliman. Hingga akhirnya Ibnu Zubair syahid. Namanya abadi dalam sejarah syuhada’ dan kata-kata Asma’ abadi hingga kini.

Jika suatu saat nanti kau jadi ibu, jadilah seperti Nuwair binti Malik yang berhasil menumbuhkan kepercayaan diri dan mengembangkan potensi anaknya. Saat itu sang anak masih remaja. Usianya baru 13 tahun. Ia datang membawa pedang yang panjangnya melebihi panjang tubuhnya, untuk ikut perang badar. Rasulullah tidak mengabulkan keinginan remaja itu. Ia kembali kepada ibunya dengan hati sedih. Namun sang ibu mampu meyakinkannya untuk bisa berbakti kepada Islam dan melayani Rasulullah dengan potensinya yang lain. Tak lama kemudian ia diterima Rasulullah karena kecerdasannya, kepandaiannya menulis dan menghafal Qur’an. Beberapa tahun berikutnya, ia terkenal sebagai sekretaris wahyu. Karena ibu, namanya akrab di telinga kita hingga kini: Zaid bin Tsabit.

Jika suatu saat nanti kau jadi ibu, jadilah seperti Shafiyyah binti Maimunah yang rela menggendong anaknya yang masih balita ke masjid untuk shalat Subuh berjamaah. Keteladanan dan kesungguhan Shafiyyah mampu membentuk karakter anaknya untuk taat beribadah, gemar ke masjid dan mencintai ilmu. Kelak, ia tumbuh menjadi ulama hadits dan imam Madzhab. Ia tidak lain adalah Imam Ahmad.

Jika suatu saat nanti kau jadi ibu, jadilah ibu yang terus mendoakan anaknya. Seperti Ummu Habibah. Sejak anaknya kecil, ibu ini terus mendoakan anaknya. Ketika sang anak berusia 14 tahun dan berpamitan untuk merantau mencari ilmu, ia berdoa di depan anaknya: “Ya Allah Tuhan yang menguasai seluruh alam! Anakku ini akan meninggalkan aku untuk berjalan jauh, menuju keridhaanMu. Aku rela melepaskannya untuk menuntut ilmu peninggalan Rasul-Mu. Oleh karena itu aku bermohon kepada-Mu ya Allah, permudahlah urusannya. Peliharalah keselamatannya, panjangkanlah umurnya agar aku dapat melihat sepulangnya nanti dengan dada yang penuh dengan ilmu yang berguna, amin!”. Doa-doa itu tidak sia-sia. Muhammad bin Idris, nama anak itu, tumbuh menjadi ulama besar. Kita mungkin tak akrab dengan nama aslinya, tapi kita pasti mengenal nama besarnya: Imam Syafi’i.

Jika suatu saat nanti kau jadi ibu, jadilah ibu yang menyemangati anaknya untuk menggapai cita-cita. Seperti ibunya Abdurrahman. Sejak kecil ia menanamkan cita-cita ke dalam dada anaknya untuk menjadi imam masjidil haram, dan ia pula yang menyemangati anaknya untuk mencapai cita-cita itu. “Wahai Abdurrahman, sungguh-sungguhlah menghafal Kitabullah, kamu adalah Imam Masjidil Haram…”, katanya memotivasi sang anak. “Wahai Abdurrahman, sungguh-sungguhlah, kamu adalah imam masjidil haram…”, sang ibu tak bosan-bosannya mengingatkan. Hingga akhirnya Abdurrahman benar-benar menjadi imam masjidil Haram dan ulama dunia yang disegani. Kita pasti sering mendengar murattalnya diputar di Indonesia, karena setelah menjadi ulama, anak itu terkenal dengan nama Abdurrahman As-Sudais.

Jika suatu saat nanti kau jadi ibu, jadilah orang yang pertama kali yakin bahwa anakmu pasti sukses. Dan kau menanamkan keyakinan yang sama pada anakmu. Seperti ibunya Zewail yang sejak anaknya kecil telah menuliskan “Kamar DR. Zewail” di pintu kamar anak itu. Ia menanamkan kesadaran sekaligus kepercayaan diri. Diikuti keterampilan mendidik dan membesarkan buah hati, jadilah Ahmad Zewail seorang doktor. Bukan hanya doktor, bahkan doktor terkemuka di dunia. Dialah doktor Muslim penerima Nobel bidang Kimia tahun 1999.

oleh: Muchlisin
sumber: Salimah

1 Komentar

PPT PEWARISAN SIFAT

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.